
oleh : Selviana
NIM : C1AA18103
kelas : 1A S1 Keperawatan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian
bawah yang disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA
akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun pada
bayi di bawah lima tahun dan bayi merupakan salah satu kelompok yang memiliki
sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit (Probowo,
2012) dalam ( Salma
Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D. Kallo , 2015 ).
Sampai saat ini ISPA masih menjadi masalah kesehatan dunia.
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2011 di New York jumlah
penderita ISPA adalah 48.325 anak dan memperkirakan di negara berkembang
berkisar 30-70 kali lebih tinggi dari negara maju dan diduga 20% dari
bayi yang lahir di negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 25-30%
dari kematian anak disebabkan oleh ISPA. ISPA dapat disebabkan oleh
tiga faktor, yaitu faktor individu anak, faktor perilaku dan faktorlingkungan.
Faktor individu anak meliputi: umur anak, berat
badan lahir, status gizi, vitamin A dan status imunisasi. Faktor perilaku
meliputi perilaku pencegahan dan penanggulangan ISPA pada bayi atau
peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani penyakit ISPA. Faktor
lingkungan meliputi: pencemaran udara dalam rumah (asap rokok dan asap hasil pembakaran
bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi yang tinggi),ventilasi rumah dan
kepadatan hunian(Prabu, 2009)
dalam (Salma Milo, A. Yudi Ismanto,
& Vandri D. Kallo , 2015).
Merokok
merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Dimana-mana, mudah menemui orang merokok, lelaki-wanita, anak kecil-tua renta,
kaya-miskin, tidak ada terkecuali (Bustan, 2007), data Biro Pusat
Statistika (SUSENAS 2001) menunjukan jumlah perokok pemuka usia 5-9 tahun
meningkat tajam. Dari 0,4% (2001) menjadi 2,8% (2004). Trend perokok pemula
pada usia 10-14 tahun pun meningkat tajam, dari 9,5% (Susenas, 2001) menjadi 17,5% (Riskesdas,
2010) (Kemenkes RI, 2012) dalam ( Neni Kusmana Wardani, Sri Winarsih, Tuti Sukini, 2015 ).
Tingginya prevalensi merokok negara
berkembang termasuk Indonesia menyebabkan masalah merokok menjadi semakin
serius. Data statistik dari World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan prevalensi jumlah perokok
yang berusia lebih dari 15 tahun di Indonesia hampir mencapai 2x lipat ratarata
perokok usia dewasa di dunia, yaitu 61% laki-laki serta 5% perempuan. Hal ini
menempatkan Indonesia menjadi negara ke-3 tertinggi dalam jumlah perokok usia
dewasa (WHO, 2012). Kondisi ini diiringi
dengan banyaknya jumlah perokok pasif dimana sebanyak 78,4% atau 133,3
juta orang dewasa terpapar asap rokok didalam rumahnya (Departemen Kesehatan
RI, 2012) dalam (Hadi Syahputra, Ns. Febriana Sabrian, Wasisto Utomo, 2014)
Analisis WHO, menunjukkan bahwa efek buruk asap rokok lebih besar
bagi perokok pasif dibandingkan perokok aktif. Ketika perokok membakar
sebatang rokok dan menghisapnya, asap yang dihisap olehperokok disebut asap
utama, dan asap yang keluar dariujung rokok (bagian yang terbakar) dinamakan sidestream
smoke atau asap samping. Asap samping ini terbukti mengandung lebih banyak
hasil pembakaran tembakau dibanding asap utama. Asap
ini mengandungkarbon monoksida 5 kali lebih besar,
tar dan nikotin 3 kali lipat, amonia46 kali lipat, nikel 3 kali lipat,
nitrosamine sebagai penyebab kankerkadarnya mencapai 50 kali lebih besar asap
sampingan dibandingdengan kadar asap utama (Umami, 2010) dalam (Salma Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D. Kallo , 2015).
Kebiasaan merokok orang tua di dalam rumah menjadikan balita
sebagai perokok pasif yang selalu terpapar asap rokok. Rumah yang orang tuanya
mempunyai kebiasaan merokok berpeluang meningkatkan kejadian ISPA sebesar 7,83
kali dibandingkan dengan rumah balita yang orang tuanya tidak merokok di dalam
rumah. Sementara itu jumlah perokok dalam suatu keluargacukup tinggi
(Rahmayatul, 2013) dalam (Salma Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D.
Kallo , 2015).
ISPA
merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan sering menempati urutan
pertama angka kesakitan balita. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat sekitar
200 ribu kematian akibat pencemaran udara yang menimpa daerah perkotaan, dimana
93 % kasusterjadi di Negara-negara berkembang (WHO, 2006) dalam ( Yessy pramita Widodo, Rizki
Cintya putri, Lintang Dewi Saputri, 2016)
Menurut WHO (World
Health Organization), bahwa ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun
dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang di Asia dan Afrika seperti: India (48%), Indonesia (38%), Ethiopia
(4,4%), Pakistan
(4,3%), China (3,5%), Sudan (1,5%), dan Nepal (0,3%). Dimana pneumonia merupakan salah satu
penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta dari 13 juta anak balita setiap
tahun (Depkes RI, 2012), survei
mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan
ISPA/pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan
persentase (22,30%) dalam (Sariana Pangaribuan, 2017).
Milo, salma., Ismanto, A.Y., Kallo,
V.D. (2015). Hubungan kebiasaan merokok di dalam rumah dengan kejadian ISPA
pada Anak umur 1-5 tahun di Puskesmas Sario kota Manado. E- journal keperawatan
(e-kep), 3, 1-7.
Wardani, N.K., Winarsih, Sri., Sukini, Tuti. (2014). Hubungan antara
paparan asap rokok dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada
balita di desa Pucung rejo kabupaten Magelang. Jurnal kebidanan, 4, 18-26.
Pangaribuan, Sariana. (2017). Hubungan kondisi lingkungan rumah dengan
kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Remu kota Sorong. Global health science,
2, 6-10.
Syahputra, Hadi., Sabriana, Ns. F., Utomo, Wasisto. (2014). Perbandingan
kejadian ISPA balita pada keluarga yang
merokok di dalam rumah dengan kelurga yang tidak merokok. Jurnal keperawatan
komunitas, 2, 7-14.
Widodo, Y.P., Dewi, R,C., Saputri, L.D. (2016).
Hubungan perilaku keluarga terhadap infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Jurnal ilmu kesehatan bhamada, 7, 103-113.
ππ»
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusππ»ππ»
BalasHapusGood job
BalasHapusArtikel yang bagus.. Memberi informasi bahaya rokok
BalasHapusNicee. πππ
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusπ
BalasHapusSangat menarik untuk dibaca , apalagi sambil ngerokok sambil ngopi��
BalasHapusAlhamdulillah bagus sekali artikelnya menambah pengetahuan mengenai ISPA :)
BalasHapusBagusπ
BalasHapusNtapss
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusπππ
BalasHapusTrimakasih, sgt membantu
BalasHapusSangat bermanfaat��
BalasHapusJika di dalam rumah tidak bisa merokok, di luar rumah masih bisa merokok?
BalasHapus