Kamis, 16 Mei 2019

Hubungan Kebiasaan Merokok diDalam Rumah dengan Kejadian ISPA pada Anak

Hasil gambar untuk ROKOK

oleh  : Selviana
NIM : C1AA18103
kelas : 1A S1 Keperawatan


Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah yang disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun pada bayi di bawah lima tahun dan bayi merupakan salah satu kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit (Probowo, 2012) dalam ( Salma Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D. Kallo , 2015 ).

Sampai saat ini ISPA masih menjadi masalah kesehatan dunia. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2011 di New York jumlah penderita ISPA adalah 48.325 anak dan memperkirakan di negara berkembang berkisar 30-70 kali lebih tinggi dari negara maju dan diduga 20% dari bayi yang lahir di negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 25-30% dari kematian anak disebabkan oleh ISPA. ISPA dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor individu anak, faktor perilaku dan faktorlingkungan. Faktor individu anak meliputi: umur anak, berat badan lahir, status gizi, vitamin A dan status imunisasi. Faktor perilaku meliputi perilaku pencegahan dan penanggulangan ISPA pada bayi atau peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani penyakit ISPA. Faktor lingkungan meliputi: pencemaran udara dalam rumah (asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi yang tinggi),ventilasi rumah dan kepadatan hunian(Prabu, 2009) dalam (Salma Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D. Kallo , 2015).

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dimana-mana, mudah menemui orang merokok, lelaki-wanita, anak kecil-tua renta, kaya-miskin, tidak ada terkecuali (Bustan, 2007), data Biro Pusat Statistika (SUSENAS 2001) menunjukan jumlah perokok pemuka usia 5-9 tahun meningkat tajam. Dari 0,4% (2001) menjadi 2,8% (2004). Trend perokok pemula pada usia 10-14 tahun pun meningkat tajam, dari 9,5% (Susenas, 2001) menjadi 17,5% (Riskesdas, 2010) (Kemenkes RI, 2012) dalam ( Neni Kusmana Wardani, Sri Winarsih, Tuti Sukini, 2015 ).
Tingginya prevalensi merokok negara berkembang termasuk Indonesia menyebabkan masalah merokok menjadi semakin serius. Data statistik dari World Health Organization (WHO) tahun 2012  menunjukkan prevalensi jumlah perokok yang berusia lebih dari 15 tahun di Indonesia hampir mencapai 2x lipat ratarata perokok usia dewasa di dunia, yaitu 61% laki-laki serta 5% perempuan. Hal ini menempatkan Indonesia menjadi negara ke-3 tertinggi dalam jumlah perokok usia dewasa (WHO, 2012). Kondisi ini diiringi  dengan banyaknya jumlah perokok pasif dimana sebanyak 78,4% atau 133,3 juta orang dewasa terpapar asap rokok didalam rumahnya (Departemen Kesehatan RI, 2012) dalam (Hadi Syahputra, Ns. Febriana Sabrian, Wasisto Utomo, 2014)
 Rokok adalah silinder kertas berukuran panjang antara 70-120 mm (bervariasi tergantung negara ) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Tiga racun utama dalam rokok yaitu nikotin, tar, dan karbonmonoksida  ( sugito, 2007 ) dalam ( Neni Kusmana Wardani, Sri Winarsih, Tuti Sukini, 2015 ).

Analisis WHO, menunjukkan bahwa efek buruk asap rokok lebih besar bagi perokok pasif dibandingkan perokok aktif. Ketika perokok membakar sebatang rokok dan menghisapnya, asap yang dihisap olehperokok disebut asap utama, dan asap yang keluar dariujung rokok (bagian yang terbakar) dinamakan sidestream smoke atau asap samping. Asap samping ini terbukti mengandung lebih banyak hasil pembakaran tembakau dibanding asap utama. Asap ini mengandungkarbon monoksida 5 kali lebih besar, tar dan nikotin 3 kali lipat, amonia46 kali lipat, nikel 3 kali lipat, nitrosamine sebagai penyebab kankerkadarnya mencapai 50 kali lebih besar asap sampingan dibandingdengan kadar asap utama (Umami, 2010) dalam (Salma Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D. Kallo , 2015).

Kebiasaan merokok orang tua di dalam rumah menjadikan balita sebagai perokok pasif yang selalu terpapar asap rokok. Rumah yang orang tuanya mempunyai kebiasaan merokok berpeluang meningkatkan kejadian ISPA sebesar 7,83 kali dibandingkan dengan rumah balita yang orang tuanya tidak merokok di dalam rumah. Sementara itu jumlah perokok dalam suatu keluargacukup tinggi (Rahmayatul, 2013) dalam (Salma Milo, A. Yudi Ismanto, & Vandri D. Kallo , 2015).
ISPA merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan sering menempati urutan pertama angka kesakitan balita. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat sekitar 200 ribu kematian akibat pencemaran udara yang menimpa daerah perkotaan, dimana 93 % kasusterjadi di Negara-negara berkembang (WHO, 2006) dalam ( Yessy pramita Widodo, Rizki Cintya putri, Lintang Dewi Saputri, 2016)
Menurut WHO (World Health Organization), bahwa ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang di Asia dan Afrika seperti: India (48%), Indonesia (38%), Ethiopia (4,4%), Pakistan (4,3%), China (3,5%), Sudan (1,5%), dan Nepal (0,3%). Dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta dari 13 juta anak balita setiap tahun (Depkes RI, 2012), survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase (22,30%) dalam (Sariana Pangaribuan, 2017).

                                                        DAFTAR PUSTAKA


Milo, salma., Ismanto, A.Y., Kallo, V.D. (2015). Hubungan kebiasaan merokok di dalam rumah dengan kejadian ISPA pada Anak umur 1-5 tahun di Puskesmas Sario kota Manado. E- journal keperawatan (e-kep), 3, 1-7.

Wardani, N.K., Winarsih, Sri., Sukini, Tuti. (2014). Hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita di desa Pucung rejo kabupaten Magelang. Jurnal kebidanan, 4, 18-26.

Pangaribuan, Sariana. (2017). Hubungan kondisi lingkungan rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Remu kota Sorong. Global health science, 2, 6-10.

Syahputra, Hadi., Sabriana, Ns. F., Utomo, Wasisto. (2014). Perbandingan kejadian ISPA balita pada keluarga yang merokok di dalam rumah dengan kelurga yang tidak merokok. Jurnal keperawatan komunitas, 2, 7-14.

Widodo, Y.P., Dewi, R,C., Saputri, L.D. (2016). Hubungan perilaku keluarga terhadap infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Jurnal ilmu kesehatan bhamada, 7, 103-113.